اهلا وسهلا ومرحبا بكم

Welcome To kemilau Tarem Al-Ghonna' Blog's

Monday, April 30, 2012

                                 
                                  
                 
                                                

 Kita masih tertawa, sedang kita tahu ia semakin menghampiri
 Kita tahu ia adalah pasti tapi kita masih tak ambil peduli..                                
 Kita yakin semua akan merasai tapi perbuatan kita seolah-olah ia tak akan terjadi.
Akhirnya kita tertipu dengan tipuan kita sendiri..

                                             
♥ Ujian bukan tanda benci dan nista tetapi tanda cinta.
♥ Ia kayu ukur keimanan seorang muslim.
♥ Yakinlah! mukmin yang sejati apabila ditimpa kesusahan dia bersyukur dan apabila ditimpa kemudaratan dia bersabar.

♥ “Sesungguhnya ALLAH bersama orang-orang yang sabar” ♥

(Surah Al-Anfal:46)
Orang yang hebat tidak akan melenting apabila dicaci, ia akan terus tersenyum, bersabar dan mendoakan yang baik-baik..^_^

RIWAYAT HIDUP SAIDINA HUSEIN A.S.





Sabda Rasulullah SAW: "Wahai puteraku al-Husein, dagingmu adalah dagingku, dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpin putera seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putera seorang pemimpin spiritual dan saudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dari Rasul, putera Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yang berasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam".
.
Di tengah kebahagiaan dan kerukunan keluarga Fatimah Az-Zahra r.a. lahirlah seorang bayi yang akan memperjuangkan kelanjutan misi Rasulullah SAW. Bayi itu tidak lain adalah Saidina Husein bin Ali bin Abi Thalib r.a., yang dilahirkan pada suatu malam di bulan Syaa'ban.
.
Rasulullah SAW bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib k.w.j.: "Engkau berikan namanya apa kepada anakku ini?" "Saya tidak berani mendahuluimu, wahai Rasulullah," jawab Ali. Akhirnya Rasulullah SAW mendapat wahyu agar menamainya 'Husein'. Kemudian di hari ketujuh, Rasulullah SAW bergegas ke rumah Fatimah Az-Zahra dan menyembelih domba sebagai aqiqahnya. Lalu dicukurnya rambut Husein dan Rasulullah SAW bersedekah dengan perak seberat rambutnya yang kemudian mengkhatannya sebagaimana upacara yang dilakukan untuk Saidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a.
.
Sebagaimana Saidina Hasan, Saidina Husein juga mendapat didikan langsung dari Rasulullah SAW. Dan setelah Rasulullah wafat, beliau dididik oleh ayahnya. Hingga akhirnya Saidina Ali terbunuh dan Saidina Hasan yang menjadi pemimpin ketika itu. Namun Saidina Hasan pun syahid dalam mempertahankan Islam dan kini Saidina Husein yang menjadi Imam atas perintah Allah dan RasulNya serta wasiat dari saudaranya. Saidina Husein hidup dalam kedudukan yang paling sulit. Itu semua merupakan akibat adanya penekanan dan penganiayaan serta banyaknya kejahatan dan kedurjanaan yang dilakukan Muawiyah. Bahkan yang lebih teruk lagi, Muawiyah menyerahkan kekhalifahan kaum muslimin kepada anaknya Yazid laknatullah, yang terkenal sebagai pemabuk, penzina, yang tidak pernah mendapat pendidikan Islam, serta seorang pemimpin yang setiap harinya hanya bermain dan berteman dengan kera-kera kesayangannya.
.
Hukum-hukum Allah tidak dijalankan, sunnah-sunnah Rasulullah SAW ditinggalkan dan Islam yang tersebar bukan lagi Islamnya Muhammad SAW, melainkan Islamnya Muawiyah serta Yazid yang lebih dikenali dengan kerosakan dan kedurjanaan. Saidina Husein merupakan tokoh yang paling ditakuti oleh Yazid. Hampir setiap kerosakan yang dilakukannya ditentang oleh Saidina Husein dan beliau merupakan seorang tokoh yang menolak untuk berbaiat kepadanya. Kemudian Yazid segera menulis surat kepada gabenornya al-Walid bin Utbah, dan memerintahkannya agar meminta baiat dari penduduk Madinah secara umum dan dari Saidina Husein secara khusus dengan apa cara sekalipun.
.
Melihat itu semua, akhirnya Saidina Husein meninggalkan Madinah. Namun sebelum meninggalkan Madinah, beliau terlebih dahulu berjalan menuju maqam datuknya Rasulullah SAW, serta solat di situ dan berdoa: "Ya Allah ini adalah kubur nabi-Mu dan aku adalah anak dari puteri nabi-Mu ini. Kini telah datang kepadaku persoalan yang sudah aku ketahui sebelumnya. Ya Allah! Sesungguhnya aku menyukai yang maaruf dan mengingkari yang mungkar, dan aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia, melalui haq orang yang ada dalam maqam ini, agar jangan Engkau pilihkan sesuatu untukku, kecuali yang Engkau dan Rasul-Mu meridhainya". Setelah menyerahkan segala urusannya kepada Allah, beliau segera mengumpulkan seluruh Ahlul-Bait dan pengikut-pengikutnya yang setia, lalu menjelaskan tujuan perjalanan beliau, yakni ke Mekah.
.
Mungkin kita bertanya-tanya, apa sebenarnya motivasi gerakan revolusi yang dilakukan Saidina Husein hingga beliau harus keluar dari Madinah. Saidina Husein sendiri yang menjelaskan alasannya kepada Muhammad bin Hanafiah dalam surat yang ditulisnya: "Sesungguhnya aku melakukan perlawanan bukan dengan maksud berbuat jahat, sewenang-wenang, melakukan kerosakan atau kezaliman. Tetapi semuanya ini aku lakukan semata-mata demi kemaslahatan umat datukku, Muhammad SAW. Aku bermaksud melaksanakan amar maa’ruf nahi mungkar, dan mengikuti jalan yang telah dirintis oleh datukku dan juga ayahku, Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah barangsiapa yang menerimaku dengan haq, maka Allah lebih berhak atas yang haq. Dan barang siapa yang menentang apa yang telah kuputuskan ini, maka aku akan tetap bersabar hingga Allah memutuskan antara aku dengan mereka tentang yang haq dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan."
.
Setelah melakukan perjalanan yang jauh, akhirnya rombongan Saidina Husein tiba di kota Mekah, yaitu suatu kota yang dilindungi Allah SWT yang dalam Islam merupakan tempat yang di dalamnya perlindungan dan keamanan dijamin. Peristiwa ini terjadi di akhir bulan Rejab 60 Hijrah.
.
Selama empat bulan di Mekah, Saidina Husein banyak berdakwah dan membangkitkan semangat Islam dari penduduk Mekah. Dan ketika tiba musim haji, beliau segera melaksanakan ibadah haji dan berkhutbah di depan khalayak ramai dengan khutbah singkat yang mengatakan bahawa beliau akan ke lraq menuju kota Kufah.
.
Selain kerana keselamatan Saidina Husein sudah terancam, ribuan surat yang datangnya dari penduduk kota Kufah juga menjadi pendorong keberangkatan Saidina Husein ke kota itu. Dan sehari setelah khutbahnya itu, Saidina Husein berangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang setia, memenuhi panggilan tersebut.
.
Ketika dalam perjalanan, ternyata keadaan kota Kufah telah berubah. Yazid mengirimkan lbnu Ziyad bagi menyiasat keadaan. Wakil Saidina Husein (Muslim bin Aqil), diseret dan dipenggal kepalanya. Orang-orang yang setia kepada Saidina Husein segera dibunuhnya. Penduduk Kufah pun berubah menjadi ketakutan, laksana tikus yang melihat kucing.
.
Sekitar tujuh puluh kilometer dari Kufah di suatu tempat yang bernama 'Karbala', Saidina Husein beserta rombongan yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang; 40 (empat puluh) laki-laki dan selebihnya kaum wanita; dan itu pun terdiri dari keluarga Bani Hasyim, baik anak-anak, saudara, sepupu dan saudara sepupu, telah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30 (tiga puluh) ribu orang.
.
Musuh yang tidak berperikemanusiaan itu melarang Saidina Husein dan rombongannya untuk meminum dari sungai Eufrat. Padahal, anjing, babi dan binatang lainnya dibenarkan berendam di sungai itu sepuas-puasnya, sementara keluarga suci Rasulullah SAW dilarang mengambil air walaupun seteguk.
.
Penderitaan demi penderitaan, jeritan demi jeritan, pekikan suci dari anak-anak yang tak berdosa menambah sedihnya peristiwa itu. Saidina Husein yang digambarkan oleh Rasul sebagai pemuda penghulu syurga, yang digambarkan sebagai Imam di saat duduk dan berdiri, harus menerima perbuatan keji dari manusia yang tidak mengenang budi.
.
Pada tanggal 10 (sepuluh) Muharram 61 Hijrah (680 Masehi), pasukan Saidina Husein yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang telah berhadapan dengan pasukan bersenjata lengkap yang berjumlah 30,000 (tiga puluh ribu) orang. Seorang demi seorang dari pengikut al-Husein mati terbunuh. Tak luput keluarganya juga mati dibunuh. Tubuh mereka dipisah-pisahkan dan dipijak-pijak dengan kuda. Hingga ketika tidak ada seorangpun yang akan membelanya beliau mengangkat anaknya yang bernama Ali al-Asghar, seorang bayi yang masih menyusu sambil menanyakan apa dosa bayi itu hingga harus dibiarkan kehausan. Belum lagi terjawab pertanyaannya sebuah panah telah menancap di dada bayi tersebut dan ketika itu pula bayi yang masih kecil itu harus mengakhiri riwayatnya dalam dakapan ayahnya, Al-Husein r.a.
.
Kini tinggallah Al-Husein seorang diri, membela misi suci seorang nabi, demi perintah Allah apapun boleh terjadi, asal agama Allah boleh tegak berdiri, badan pun boleh mati. Perjuangan Al-Husein telah mencapai puncaknya, tubuhnya yang suci telah dilumuri darah, rasa haus pun telah mencekiknya. Tubuh yang pernah dikucup dan digendong Rasulullah SAW kini telah rebah di atas padang Karbala. Lalu datanglah Syimr, menaiki dada al-Husein lalu memisahkah kepala beliau serta melepas anggota tubuhnya satu demi satu.
.
Setelah kepergian Saidina Husein ke rahmatullah, pasukan musuh merampas barang-barang milik beliau dan pengikutnya yang telah tiada. Kebiadaban mereka tidak cukup sampai di sini, mereka lalu menyerang khemah wanita dan membakarnya serta mempermalukan wanita keluarga Rasulullah SAW. Rombongan yang hanya terdiri dan kaum wanita itu, kemudian dijadikan sebagai tawanan perang yang dipertontonkan dan satu kota ke kota lain.
.
Rasulullah SAW yang mendirikan negara Islam dan membebaskan mereka dari kebodohan. Namun keluarga Umayyah yang tidak tahu membalas budi telah memperlakukan keluarga Rasulullah sedemikian rupa. Beginikah cara umatmu membalas kebaikanmu wahai Rasulullah? Benarlah sabda Rasulullah SAW yang berbunyi: "Wahai Asma! Dia (al-Husein) kelak akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampai kepada mereka."
.
Pembicaraan tentang Saidina Husein adalah pembicaraan yang dipenuhi dengan emosi dan pengorbanan. Semoga Allah SWT melaknat mereka yang terlibat dalam pembunuhan Saidina Husein dan keluarganya di dunia dan akhirat.
.
Dan semoga Allah SWT memasukkan Saidina Husein serta pengikut-pengikutnya yang setia ke dalam golongan orang-orang yang soleh yang diredhaiNya. Amein....
                                                     

"Jika kereta rosak, mekanik yang akan membaikinya, jika tubuh badan bermasalah,doktor yang akan mengubatinya. Jika kehidupan manusia bermasalah, maka Pencipta manusia itulah yang perlu dirujuk. Pelik sungguh manusia yang mengaku Allah SWT sebagai Tuhan tetapi enggan merujuk kepada syariat Allah bila berdepan dengan masalah".
-Tuan Guru Hj.Nik Abdul Aziz Hj.Nik Mat-
-Astaghfirullahal'azim-
Lelaki yang HEBAT bukanlah lelaki yang mampu MENCURI banyak HATI.....TAPI ..Lelaki yang HEBAT adalah lelaki yang mampu MENJAGA satu HATI dan SETIA pada satu HATI untuk selamanya... (^_^)

Sunday, April 29, 2012

                                                    



Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka berdo'alah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya.

Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

sebagian di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu pula mereka menjalankan keadilan

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur ke arah kebinasaan, dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.

Al A'raaf


Kenalilah Para Habaib Ahlul Bait Nabawiyyah


Al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas
  Kota Huraidhah, Hadramaut,Yaman
Mata Bathin Seorang Wali.



Seorang di antara sejumlah Waliyullah asal Hadramaut, Yaman, ialah al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas. Ulama besar ini lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada hari Selasa 19 Ramadhan 1257 H/1837 M. Karamahnya yang sangat terkenal ialah, Beliau mampu melihat secara bathiniah, sementara penglihatan lahiriahnya tidak dapat melihat. Sejak masih dalam penyusuan ibundanya, beliau terserang penyakit mata yang sangat ganas sehingga buta.
Kemampuan itu Beliau miliki sejak masih kecil hingga berusia lanjut. Suatu hari beliau memenuhi undangan salah seorang santrinya di Mesir. Ketika sedang duduk bersama tuan rumah, tiba-tiba beliau meminta kepada salah seorang hadirin membuka salah satu jendela, karena semua jendela tertutup.
“Angin di luar sangat kencang” kata orang itu. Tapi Habib Ahmad tetap mendesak agar jendela di buka.[more]
Ternyata di bawah jendela itu anak sang tuan rumah tengah berjuang melawan maut, tercebur ke dalam kolam persis di bawah jendela. Tentu saja seluruh hadirin terutama tuan rumah panik. Kontan Habib Ahmad berseru agar orang-orang segera menyelamatkannya. Dan, alhamdulillah, akhirnya anak itu selamat. Itulah salah satu karomah Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas, mampu melihat sesuatu yang terjadi dengan mata bathin, yang justru tidak terlihat oleh orang biasa.
Ketika masih dalam penyusuan ibundanya, beliau menderita sakit mata yang sangat ganas hingga buta. Ibundanya amat sedih, lalu membawa anaknya kepada al-Habib Shaleh bin ‘Abdullah al-’Atthas, salah seorang ulama’ besar di zamannya. Sang ibu meletakkan bayi mungil itu di depannya lalu menangis,
“Apa yang dapat kami perbuat dengan anak buta kami..?”
Habib Shaleh pun segera menggendong bayi itu lalu memandanginya dengan tajam. Setelah berdoa, tak lama kemudian beliau berkata,
“Anak ini akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Masyarakat akan berjalan di bawah naungan dan keberkahannya. Ia akan mencapai maqom kakeknya, Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas.”
Mendengar kata-kata yang menyejukkan itu, sang ibu terhibur. Maka sejak itu Habib Ahmad yang masih bayi mendapat perhatian khusus dari Habib Shaleh. Manakala melihat si kecil berjalan menghampirinya, Habib Shaleh pun berkata dengan lembut,
“Selamat datang, pewaris Sirr (hikmah kebijaksanaan) Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas.” (al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas, kakeknya, adalah penyusun Ratib al-’Atthas yang sangat termasyhur).
Lalu Habib Shaleh mengangkat anak kecil itu untuk di boncengkan di kuda tunggangannya.
Sejak usia lima tahun, Habib Ahmad sudah belajar mengaji kepada kakeknya yang lain, al-Habib ‘Abdullah. Setelah itu ia belajar ilmu agama kepada Faraj bin ‘Umar Sabbah, salah seorang murid Habib Hadun bin ‘Ali bin Hasan al-’Atthas, dan Habib Sholeh bin ‘Abdullah al-’Atthas, yang juga termasyhur sebagai ulama.
Seperti kebanyakan para ulama asal Timur Tengah, Habib Ahmad juga memiliki daya ingat luar biasa. Beliau mampu menghafal sesuatu hanya dengan sekali dengar. Setiap kali ada ulama datang ke Huraidhah, beliau selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menimba ilmu dari mereka,
“Aku selalu menghormati dan mengagungkan para ulama salaf yang datang ke kotaku,” kata beliau.
Semua makhluk memang memiliki mata yang mampu melihat, memandang, mengamati, tapi hanya hamba Allah yang di persiapkan oleh Allah SWT untuk dekat dengan-Nya yang mendapat anugerah mata hati (bashirah).
Cerita al-Habib ‘Umar bin Muhammad al-’Atthas mengenai karamah Habib Ahmad sangat menarik.
“Ketika masih kecil, aku suka bermain dengan Habib Ahmad di jalanan. Usia kami sebaya. Ketika itu aku sering mendengar orang-orang memperbincangkan kewalian dan mukasyafah (kata benda untuk Kasyaf, kemampuan melihat hal-hal yang tidak kasat mata) Habib Ahmad. Namun, aku belum pernah membuktikannya,” katanya.
“Suatu hari aku berusaha membuktikan cerita orang-orang itu. Jika ia seorang wali, aku akan membenarkannya, tapi jika hanya kabar bohong, aku akan membuatnya menderita. Kami menggali lubang lalu kami tutup deogan tikar. Setelah tiba saat bermain, aku mengajak Habib Ahmad berlomba lari. Ia kami tempatkan di tengah tepat ke arah lubang itu. Ajaib…!!! Ketika sudah dekat dengan lubang itu, ia melompat seperti seekor Kijang. Awalnya kami kira kejadian ini hanya kebetulan. Kamipun mengajaknya berlomba lagi. Tapi, ketika sampai di depan lubang, ia melompat lagi. Ketika itu kami sadar bahwa ia memang bukan manusia biasa,” kata Habib ‘Umar lagi.
Ketika berusia 17 tahun, Habib Ahmad menunaikan ibadah haji. Kedatangannya di Makkah di sambut oleh al-Allamah Mufti Haramain, as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang menganjurkannya untuk menuntut ilmu al-Qur’an kepada seorang ulama besar di Makkah, Syaikh ‘Ali bin Ibrahim as-Samanudi. Setelah hafal al-Qur’an, Habib Ahmad mempelajari berbagai jenis gaya Qiraat al-Qur’an.
Ketika membuka taklim di Masjidil Haram, as-Sayyid Zaini Dahlan memberi kesempatan kepada Habib Ahmad untuk membacakan hafalan al-Qur’an-nya. Mereka memang sangat akrab, sering berziarah ke berbagai tempat bersejarah di Makkah dan Madinah. Pada 1279 H/sekitar 1859 M, ketika usia beliau 22 tahun, Habib Ahmad pulang dan mengajar serta berdakwah di Hadramaut.
Berkhalwat di Huraidhah
Guru yang berjasa mendidik Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas antara lain:
• al-Habib Abu Bakar bin ‘Abdullah al-’Atthas.
• al-Habib Shaleh bin ‘Abdullah al-’Atthas.
• al-Habib Ahmad bin Muhammad bin ‘Alwi al-Muchdhar.
• al-Habib Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Idrus al-Bar.
• al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Umar bin Segaf as-Seggaf.
• al-Habib Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin ‘Abdillah as-Seggaf.
• al-Habib Muhammad bin Ibrahim bin Idrus Bilfaqih.
Sementara guru-gurunya dari Makkah dan Madinah adalah:
o al-Habib Muhammad bin Muhammad as-Seggaf.
o al-Habib Fadhl bin ‘Alwi bin Muhammad bin Sahl Maula Dawilah.
o as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.
Sedangkan kitab-kitab yang beliau pelajari (lewat pendengaran), dengan bimbingan Habib Shaleh bin Abdullah al-’Atthas antara lain, Idhahu Asrari Ulumil Muqorrobin, ar-Risalatul Qusyairiyyah, as-Syifa’ karya Qodhi ‘Iyadh dan Mukhtashar al-Adzkar karya asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bahraq. Sejak berguru kepada Habib Shaleh, beliau tidak pernah meninggalkan majelis itu, hingga sang wafat pada 1279 H/sekitar 1859 M.
Pada 1308 H/kurang lebih 1888 M ketika berusia 51 tahun, beliau berkunjung ke Mesir di temani empat muridnya, Syaikh Muhammad bin Awudh Ba Fadhl, Abdullah bin Shaleh bin Ali Nahdi, Ubaid Ba Flai’ dan Sayid Muhammad bin Utsman bin Yahya Ba Alawi. Beliau di sambut oleh ulama terkemuka, Umar bin Muhammad Ba Junaid. Selama 20 hari di Mesir beliau sempat mengunjungi Syaykhul Islam Muhammad al-Inbabiy dan beberapa ulama termasyhur lainnya di Kairo.
Beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rosul Allah SAW, beribadah Umrah ke Makkah lalu menuju Jeddah, Aden, Mukalla, kemudian pulang. Pada 1321 H/sekitar 1901 M, ketika berusia 64 tahun beliau berkunjung ke Tarim dan singgah di Seiwun untuk bertemu dengan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, penyusun Maulid Simtud Duror. Ketika itu Habib Ali minta agar Habib Ahmad memberikan ijazah kepada hadirin.
Pada usia 68 tahun, sekali lagi ia menunaikan ibadah Haji, sekalian berziarah ke makam Rosul Allah SAW. Pulang dari Tanah Suci, beliau banyak berkhalwat di Huraidhah. Menghabiskan sisa-sisa usia untuk beribadah dan berdakwah. Beliau wafat pada hari Senin malam 6 Rajab 1334 H/kurang lebih 1914 M dalam usia 77 tahun.
Banyak murid Habib Ahmad yang di belakang hari berdakwah di Indonesia. Seperti, al-Habib Ali al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), al-Habib Syekh bin Salim al-’Atthas (Sukabumi, Jawa Barat), al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf (Gresik, Jawa Timur), al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy (Malang, Jawa Timur) dan lain-lain.

(Di sarikan dari buku Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas, karya Habib Novel Muhammad al-’Aydrus, Putera Riyadi, Solo, 2003.*)
http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-al-habib-ahmad-bin-hasan-al-%E2%80%99atthas.html#more-2235
Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun". Sahabat bertanya : "Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?" Beliau menjawab,"Orang yang sombong." [HR at Tirmidzi no. 2018]

الثَّرْثَارُونَ (tsartsarun), banyak bercakap dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran.

الْمُتَشَدِّقُونَ (mutasyaddiqun), kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri.

الْمُتَفَيْهِقُونَ (mutafaihiqun), berasal dari kata al fahq, yang bererti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara keras panjang lebar, disertai dengan perasaan sombong dan pongah, serta menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan, seolah dirinya lebih hebat dari yang lainnya.
_________________________